Ida Lela, S.Pd
- JabatanGuru TK Kelas B Kelompok Bunga Mawar
- StatusPNS
- NIP196703211986032001
- NUPTK3653745646300012
- Aktif2001 - Sekarang
- GenderPerempuan
- Tempat, Tanggal LahirPekon Balak, 1 January 1970
- AgamaIslam
- Alamat-
- Kontak-
Ketika Kesabaran Menjadi Cara Mengajar
TK PERTIWI – Tidak semua pelajaran harus disampaikan melalui buku dan papan tulis. Bagi Ida Lela, S.Pd., pendidikan anak usia dini justru lebih banyak berbicara tentang bagaimana seorang guru hadir, mendengarkan, memahami, merangkul, dan membuat anak merasa aman untuk tumbuh.
Setiap pagi, ketika anak-anak datang ke TK Pertiwi Kota Bandar Lampung dengan beragam ekspresi dan karakter, Ida Lela melihat lebih dari sekadar peserta didik. Ia melihat pribadi-pribadi kecil yang sedang belajar mengenal dirinya, lingkungan, dan dunia di sekitarnya.
Di situlah perjalanan panjangnya sebagai seorang guru menemukan maknanya.
Ida Lela telah mengabdikan diri di dunia pendidikan taman kanak-kanak sejak 2001. Selama lebih dari dua dekade, ia melewati berbagai perubahan zaman, karakter anak, pola pengasuhan, hingga tantangan dalam dunia pendidikan. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah kecintaannya terhadap anak-anak dan semangat untuk terus memberikan yang terbaik.
Dedikasinya juga diperkuat dengan pendidikan akademik. Ia merupakan lulusan S1 Universitas Terbuka jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (AUD), sebuah pilihan yang sejalan dengan pengabdiannya selama bertahun-tahun dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Pengalaman panjang membuat Ida Lela memahami bahwa menjadi guru TK membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar dibanding sekadar menyampaikan materi.
Menurutnya, anak-anak zaman sekarang memiliki karakter yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu anak cenderung lebih mudah diarahkan, kini guru dituntut untuk lebih dekat dan memahami kebutuhan masing-masing anak.
Anak tidak cukup hanya diberi tahu apa yang harus dilakukan. Mereka perlu didekati dengan cara yang sesuai dengan dunianya.
Ada kalanya anak harus dirangkul. Ada pula saat seorang anak perlu dibujuk dengan lembut. Bahkan, ketika seorang anak sulit diarahkan, guru harus mampu menahan emosi dan mencari cara agar anak memahami tanpa merasa tertekan.
Bagi Ida Lela, kasih sayang bukan sekadar tambahan dalam pendidikan anak usia dini. Kasih sayang adalah bagian dari proses belajar itu sendiri.
Setiap hari, guru harus menunjukkan perhatian dan kepedulian. Sebab, anak-anak akan lebih mudah belajar ketika mereka merasa diterima dan disayangi.
Salah satu prinsip yang terus dipegang Ida Lela adalah memperlakukan anak sesuai dengan karakter masing-masing.
Ia tidak ingin semua anak diperlakukan dengan cara yang sama, karena setiap anak memiliki keunikan.
Anak yang aktif, misalnya, membutuhkan kegiatan yang dapat menyalurkan energi sekaligus mengembangkan kreativitasnya. Permainan seperti lego dapat menjadi salah satu pilihan. Melalui bermain, anak bukan hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar berkonsentrasi, berimajinasi, menyusun sesuatu, dan menyelesaikan masalah.
Sementara anak yang lebih pendiam membutuhkan pendekatan berbeda. Mereka perlu diberi kesempatan untuk merasa nyaman, kemudian perlahan diajak berinteraksi.
Begitu pula ketika ada anak yang tiba-tiba murung atau tidak bersemangat. Ida Lela tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa anak sedang malas atau tidak mau belajar.
Ia memilih bertanya, mendekati, dan mencari tahu apa yang sedang dirasakan anak.
“Setiap anak itu berbeda. Jadi perlakuannya juga harus disesuaikan dengan karakter anak,” menjadi prinsip yang ia jalankan dalam keseharian.
Bagi dia, keberhasilan pendidikan anak usia dini bukan hanya diukur dari seberapa cepat seorang anak mampu membaca atau berhitung.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk ditanamkan, yakni karakter.
Karena itu, pembelajaran yang diberikan mencakup berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari fisik motorik halus dan kasar, kemampuan kognitif, seni, hingga moral dan sikap.
Anak diajak bergerak, bermain, berkarya, berpikir, berkomunikasi, sekaligus belajar mengenal nilai-nilai kebaikan.
Semua dilakukan dengan cara yang menyenangkan agar anak tidak merasa sedang “dipaksa belajar”.
Menurut Ida Lela, masa usia dini merupakan masa penting untuk menanamkan kebiasaan baik. Apa yang dibiasakan hari ini dapat menjadi bagian dari karakter anak di kemudian hari.
Ia percaya, seorang guru mungkin tidak selalu melihat langsung hasil dari apa yang diajarkannya. Namun, nilai-nilai yang ditanamkan dengan konsisten akan menjadi bekal bagi anak ketika mereka tumbuh dewasa. (*)
