Nindya Ayu Putri, S.Pd
- JabatanGuru TK Kelas B Kelompok Bunga Anggrek
- StatusKontrak
- NIP-
- NUPTK-
- Aktif2026 - Sekarang
- GenderPerempuan
- Tempat, Tanggal LahirKota Bandar Lampung, 23 June 2026
- AgamaIslam
- AlamatKota Bandar Lampung
- Kontak-
Hadir Mendampingi Anak, Menanam Benih Karakter Sejak Dini
TK PERTIWI – Di balik riuh suara anak-anak yang bermain dan belajar di TK Pertiwi Kota Bandar Lampung, ada sosok yang dengan sabar memastikan setiap anak mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan. Ia adalah Nindia Ayu Putri, S.Pd., guru pendamping Kelompok B Anggrek.
Sebagai lulusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Lampung (Unila), Nindia memahami bahwa mendampingi anak usia 5–6 tahun bukan pekerjaan yang hanya membutuhkan kemampuan mengajar. Lebih dari itu, dibutuhkan kesabaran, kepekaan, dan kemauan untuk memahami setiap karakter anak.
Meski baru bergabung sebagai pendidik, Nindia berusaha memberikan peran terbaiknya. Bersama guru utama, ia mempersiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran, mulai dari lembar kerja peserta didik (LKPD), kertas, pensil, krayon, hingga perlengkapan untuk kegiatan kreatif.
Namun, tugas terpentingnya justru hadir ketika pembelajaran berlangsung. Nindia mendampingi anak yang membutuhkan perhatian lebih, membantu mereka memahami instruksi, sekaligus menjaga agar suasana kelas tetap nyaman dan menyenangkan.
Baginya, setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami arahan, ada pula yang membutuhkan pengulangan dan pendekatan secara perlahan. Karena itu, ia berusaha tidak memaksakan satu cara kepada semua anak.
“Anak-anak memiliki karakter yang berbeda. Jadi, pendekatannya juga harus berbeda,” menjadi prinsip yang ia terapkan dalam mendampingi peserta didik.
Ketika ada anak yang aktif, misalnya, Nindia tidak serta-merta menganggapnya sebagai gangguan. Energi tersebut justru diarahkan melalui aktivitas yang sesuai, seperti permainan konstruktif menggunakan Lego. Dengan cara itu, anak tetap dapat bergerak sekaligus belajar berkonsentrasi dan menyelesaikan sesuatu.
Begitu pula ketika menghadapi anak yang menangis atau belum nyaman berada di sekolah. Nindia memilih mendekati mereka secara perlahan, memberikan rasa aman, dan membangun kedekatan hingga anak merasa diterima.
Menurutnya, rasa aman merupakan salah satu pintu penting dalam pendidikan anak usia dini. Ketika anak merasa nyaman bersama guru dan teman-temannya, mereka akan lebih berani mencoba, berkomunikasi, bermain, dan mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran.
Karena itu, keberhasilan pendidikan di usia dini tidak selalu harus diukur dari kemampuan membaca, menulis, atau berhitung. Ada perkembangan lain yang jauh lebih mendasar, seperti keberanian berbicara, kemandirian, kemampuan berbagi, mengikuti aturan, mengendalikan emosi, dan menghargai teman.
Bagi Nindia, ketika seorang anak yang awalnya pemalu mulai berani tampil, anak yang sebelumnya sulit mengikuti aturan mulai memahami arahan, atau seorang anak mulai mampu menyelesaikan tugasnya sendiri, semua itu merupakan pencapaian yang layak dihargai.
Di situlah ia menemukan makna menjadi guru pendamping. Bukan sekadar membantu guru utama menyelesaikan kegiatan pembelajaran, tetapi hadir sebagai orang dewasa yang menemani anak melewati proses kecil menuju perkembangan yang lebih besar.
Nindia berharap anak-anak yang didampinginya kelak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, memiliki karakter baik, mampu mengenali dirinya, serta dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif.
Dari ruang kelas Kelompok Anggrek, Nindia belajar bahwa pendidikan anak usia dini adalah tentang menanam. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat hari ini, tetapi perhatian, kesabaran, dan kasih sayang yang diberikan kepada anak dapat menjadi bekal yang mereka bawa hingga dewasa.
Sebab, bagi Nindia, setiap anak bukan sekadar peserta didik. Mereka adalah pribadi yang sedang tumbuh, dan tugas seorang pendidik adalah memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, menyenangkan, dan penuh perhatian. (*)
