Nursaini, S.Pd
- JabatanGuru TK Kelas B Kelompok Bunga Mawar
- StatusKontrak
- NIP-
- NUPTK025876066121003
- Aktif2024 - Sekarang
- GenderPerempuan
- Tempat, Tanggal LahirTebing Tinggi, 26 September 1982
- AgamaIslam
- AlamatKota Bandar Lampung
- Kontak-
Dari Ruang Kelas Mawar, Menanam Bekal untuk Masa Depan
TK PERTIWI – Tidak semua hasil pendidikan dapat langsung terlihat. Ada yang tumbuh perlahan melalui kebiasaan kecil, seorang anak yang mulai berani berbicara, belajar menunggu giliran, mampu menyelesaikan tugas sendiri, hingga terbiasa mengucapkan doa sebelum makan. Bagi Nursaini, S.Pd., perubahan kecil seperti itulah yang membuat perjalanan menjadi guru anak usia dini terasa begitu berarti.
Sejak 2024, Nursaini mengabdikan diri sebagai guru di TK Pertiwi Kota Bandar Lampung. Lulusan S1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Terbuka (UT) tersebut kini mendampingi peserta didik Kelompok B Mawar yang berusia 5–6 tahun.
Bersama anak-anak, hari-harinya dipenuhi aktivitas belajar yang dikemas dalam suasana bermain. Sebelum pembelajaran dimulai, ia menyiapkan rencana pembelajaran harian sesuai tema dan kebutuhan perkembangan peserta didik.
Bagi Nursaini, pembelajaran anak usia dini tidak boleh membuat anak merasa terbebani. Sebaliknya, anak harus merasa senang sehingga mereka dapat belajar sambil bermain, bergerak, bertanya, mencoba, dan menemukan sesuatu dengan caranya sendiri.
Satu tema pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan banyak kemampuan. Ketika belajar tentang tanaman, misalnya, anak dapat diajak mengamati lingkungan, mengenal nama tanaman, menghitung, menggambar, mewarnai, bernyanyi, bergerak, hingga membuat karya seni.
Dari satu kegiatan sederhana, berbagai kemampuan anak dapat berkembang sekaligus.
Namun, bagi Nursaini, tantangan terbesar dalam mendidik anak usia dini bukan sekadar menyiapkan materi. Tantangannya adalah memahami bahwa setiap anak datang dengan karakter, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda.
Ada anak yang mudah menerima arahan. Ada pula yang lebih aktif, sulit duduk diam, dan membutuhkan ruang untuk bergerak. Nursaini memilih tidak melihat perbedaan tersebut sebagai masalah.
Ia justru menjadikannya sebagai pertimbangan dalam menentukan pendekatan.
“Tidak semua siswa pembelajarannya sama. Ada yang bisa duduk diam mendengarkan, ada juga yang aktif. Pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan anak,” ujarnya.
Anak yang memiliki energi lebih besar diarahkan melalui permainan dan aktivitas yang melibatkan gerakan. Dengan cara tersebut, anak tetap dapat belajar sekaligus menyalurkan rasa ingin tahu dan energinya secara positif.
Di sisi lain, Nursaini juga menanamkan kebiasaan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi bekal penting bagi kehidupan anak. Mereka dibiasakan mencuci tangan, mengantre, berdoa sebelum makan, menyelesaikan tugas, menjaga lingkungan, serta belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Menurut Nursaini, pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Karakter justru tumbuh dari pembiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan dicontohkan dalam keseharian.
Karena itu, ia tidak terburu-buru menilai keberhasilan seorang anak hanya dari kemampuan akademiknya. Baginya, keberanian seorang anak untuk tampil di depan kelas, kemauan berbagi dengan teman, kemampuan mengikuti aturan, atau kesanggupan melakukan sesuatu secara mandiri merupakan pencapaian yang tidak kalah penting.
Setiap perubahan kecil menjadi alasan baginya untuk terus mendampingi.
Ketika anak yang sebelumnya selalu meminta bantuan mulai mampu mengerjakan tugas sendiri, ketika anak yang pemalu mulai berani berkomunikasi, atau ketika anak yang aktif mulai mampu mengikuti aturan, Nursaini melihat ada proses besar yang sedang berlangsung di balik perubahan tersebut.
Ia percaya, usia dini merupakan masa penting untuk meletakkan fondasi kehidupan anak. Apa yang dibiasakan dan ditanamkan hari ini dapat menjadi bekal ketika mereka melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya dan memasuki kehidupan yang lebih luas.
Karena itu, Nursaini ingin anak-anak yang didampinginya tidak hanya tumbuh menjadi anak yang pintar, tetapi juga menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, sopan, mampu bersosialisasi, memiliki akhlak baik, dan peduli terhadap orang lain.
Dari Kelompok B Mawar, ia terus menjalankan satu peran sederhana namun penuh makna: menemani anak-anak tumbuh.
Sebab, bagi Nursaini, menjadi guru TK bukan hanya tentang mengajar apa yang belum diketahui anak. Lebih dari itu, seorang guru ikut membantu anak menemukan keberanian, mengenali dirinya, membangun kebiasaan baik, dan mempersiapkan langkah pertama menuju masa depan. (*)
